Research Behind Cooperative Integrated Reading and Composition

A.   Pendahuluan

Pada hakikatnya pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan peserta didik agar mampu mengikuti pendidikan lebih lanjut dengan memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri. Dengan adanya pengembangan diri ini, maka peserta didik akan lebih leluasa mengasah segala kreativitasnya bahkan untuk melatih dirinya agar lebih peka dalam menghargai bentuk suatu karya sastra.

Pembelajaran dikatakan berhasil apabila peserta didik mampu memahami apa yang disampaikan oleh guru yang ditunjukkan dengan hasil pembelajaran yang memuaskan. Proses pembelajaran memerlukan strategi yang variatif agar peserta didik tertarik mengikuti pembelajaran di dalam kelas dengan perasaan yang senang dan nyaman. Adanya keefektifan di dalam sebuah pembelajaran merupakan hal yang penting, guna tercapainya kualitas kemampuan dan pengetahuan peserta didik sesuai dengan yang diharapkan.

Sebagai tenaga pendidik, guru harus memberikan stimulus untuk merangsang bakat dan minat peserta didik agar peserta didik lebih termotivasi dan tertarik dalam mengikuti pembelajaran. Selain itu, dengan diterapkannya kurikulum 2013, guru hendaknya lebih semakin kreatif dalam proses pembelajaran. Bukan sebaliknya, menghambat guru mencapai tujuan dalam pembelajaran. Untuk mengatasi permasalahan ini, guru diharapkan lebih kreatif dalam menentukan model dan media pembelajaran yang tepat.

Dengan diterapkannya Kurikulum 2013, menjadikan peran mata pelajaran bahasa Republic of indonesia sebagai penghela mata pelajaran yang lain. Peran bahasa Republic of indonesia menjadi penting dibandingkan dengan mata pelajaran lainnya karena berfungsi menghantarkan kandungan materi dari semua sumber kompetensi kepada peserta didik ke dalam semua mata pelajaran. Oleh karena itu, bahasa Indonesia harus dikuasai oleh peserta didik sebagai bekal untuk memahami semua mata pelajaran yang tergabung dalam Kurikulum 2013.

Peran bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013 semakin ditingkatkan dan tanggung jawab peningkatan peran bahasa pemersatu bangsa kini berada di pundak Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementrian dan Kebudayaan (Kemendikbud), yang siap memberikan penambahan pelatihan guru, khususnya guru bahasa Indonesia. Guru bahasa Indonesia pun dituntut untuk memiliki wawasan yang lebih baik.

Salah satu persoalan penting yang sering dilupakan oleh para pendidik yaitu bagaimana membuat peserta didik memahami apa yang disampaikan di depan kelas. Kurikulum 2013 ini lebih menekankan pada cara atau metode yang digunakan pendidik untuk mengejar. Hal ini terkait dengan hasil yang diperoleh peserta didik dalam bentuk nilai. Metode yang digunakan pendidik sangat berpengaruh terhadap keberhasilan dan kesuksesan sebuah pembelajaran.

Keberhasilan pendidikan dalam sebuah lembaga pendidikan tidak hanya ditumpukan pada peserta didik saja tetapi lebih banyak pada seberapa besar guru memberikan solusi cara atau metode pembelajaran yang membuat peserta didik menikmati pelajaran itu serta membuatnya senang. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan guru sebagai variasi dalam proses pembelajaran adalah model kooperatif.

Banyak jenis model pembelajaran kooperatif yang dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, tetapi model pembelajaran kooperatif yang digunakan dalam pembelajaran. Salah satunya adalah model Cooperative Integrated Reading and Composition. Cooperative Integrated Reading and Composition dalam pembelajaran menulis bertujuan untuk merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi pendekatan proses menulis pada pelajaran menulis dan seni berbahasa yang akan banyak memanfaatkan kehadiran teman satu kelas. Dalam program Cooperative Integrated Reading and Composition, para peserta didik merencanakan, merevisi, dan menyunting karangan mereka dengan kolaborasi yang erat dengan teman satu tim mereka (Slavin, 2010:204)

Model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition adalah salah satu model kooperatif yang komprehensif untuk mengajarkan pembelajaran membaca, menulis, dan seni berbahasa (Suprijono, 2011:96). Tujuan utama dari model ini adalah menggunakan tim-tim kooperatif untuk membantu peserta didik mempelajari kemampuan memahami bacaan yang dapat diaplikasikan secara luas. Peserta didik dalam model Cooperative Integrated Reading and Composition juga membuat penjelasan terhadap prediksi mengenai bagaimana masalah-masalah akan diatasi dan merangkum unsur-unsur utama dari cerita kepada satu sama lain yang diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dalam membaca. Selain itu, tujuan utama model Cooperative Integrated Reading and Composition adalah untuk merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi pendekatan proses pada pembelajaran menulis dan seni berbahasa yang banyak memanfaatkan kehadiran teman satu kelas.

Dalam model Cooperative Integrated Reading and Composition ini peserta didik bertanggung jawab terhadap tugas kelompok. Setiap anggota kelompok saling mengeluarkan ide untuk memahami suatu konsep dan menyelesaikan tugas dalam pembelajaran materi menyusun teks cerita pendek, sehingga terbentuk sebuah pemahaman yang sama. Selain itu, proses pembelajaran model Cooperative Integrated Reading and Composition ini juga mendidik peserta didik untuk berinteraksi dengan lingkungan. Tujuan dari model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition ini adalah meningkatkan cara berpikir kritis, kreatif, dan menumbuhkan sikap sosial peserta didik dengan peserta didik dalam satu kelompoknya maupun dengan kelompok lain.

B. Model Pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition

1.    Pengertian Model Pembelajaran

Model pembelajaran diartikan sebagai prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Dapat juga diartikan suatu pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Model pembelajaran adalah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelompok maupun tutorial (Suprijono, 2012: 46). Sementara itu, pendapat lain disampaikan oleh Trianto (2009: 1) model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas.

Dalam model pembelajaran terdapat fungsi model pembelajaran yaitu sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan peta para guru dalm melaksanakan pembelajaran. Pemilihan model pembelajaran sangat dipengaruhi oleh sifat dan materi yang akan diajarkan, tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran tersebut, serta tingkat kemampuan peserta didik. Selain itu, pendapat lain dikemukakan oleh Joyce dan Weill (dalam Huda 2013: 73) bahwa model pengajaran adalah rencana atau pola yang digunakan untuk membentuk kurikulum, mendesain materi-materi instruksional, dan memandu proses pengajaran di ruang kelas atau di setting yang berbeda.

Model pembelajaran tidak terlepas dari kata strategi atau model pembelajaran identik dengan istilah strategi. model pembelajaran dan strategi merupakan satu yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya harus beriringan, sejalan, dan saling mempengaruhi. Istilah strategi itu sendiri dapat diuraikan sebagai taktik atau sesuatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien.

Selain itu strategi dalam pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatu perangkat materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama, terpadu untuk menciptakan hasil belajar yang diinginkan guru pada siswa. agar tujuan pendidikan yang telah disusun dapat secara optimal tercapai, maka perlu suatu metode yang diterapkan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan tersebut. Dengan demikian dapat dijabarkan bahwa dalam satu metode pembelajaran menggunakan beberapa strategi.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah suatu pedoman perencanaan yang digunakan oleh guru dalam kegiatan proses pembelajaran dari awal sampai akhir pembelajaran berlangsung.

2.   Perbedaan Pendekatan, Strategi, dan Model Pembelajaran

Pengertian pendekatan, strategi, dan model pembelajaran sering diartikan sama dan berketerkaitan. namun sebenarnya memiliki makna yang berbeda. Pengertian pendekatan (approach) dapat dipandang sebagai suatu rangkaian tindakan yang terpola atau terorganisir berdasarkan prinsip-prinsip tertentu. yang terarah secara sistematis dengan maksud agar pada tujuan-tujuan yang hendak diinginkan dapat tercapai. Dengan demikian, pola tindakan tersebut dibangun di atas prinsip-prinsip yang telah dibuktikan kebenarannya. sehingga tindakan-tindakan yang diorganisir tersebut dapat berjalan secara konsisten ke arah ketercapaian tujuan yang diinginkan.

Dari pengertian di atas maka pendekatan mengandung sejumlah komponen atau unsur, yaitu tujuan, pola tindakan, metode atau teknik, serta sumber-sumber yang digunakan, dan prinsip-prinsip. Sedangkan strategi sendiri merupakan suatu istilah yang diadopsi dari bidang kemiliteran ke dalam bidang industri kemudian ke dalam bidang pendidikan. Strategi dapat diartikan sebagai perpaduan secara keseluruhan dan pengorganisasian secara kronologis dari metode-metode dan bahan-bahan yang dipilih untuk mencapai tujuan (UNESCO, 1981).

Philips and Owens (1986), mengemukakan bahwa strategi adalah serangkaian tindakan yang bertalian secara konsisten dan tindakan-tindakan secara konseptual, terpadu, dengan tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Dari kedua definisi dapat ditarik pernyataan bahwa strategi dan pendekatan (arroyo) memiliki kesamaan arti. Hanya perbedaannya terletak pada prinsip-prinsip yang melandasinya. Penggunaan kedua istilah tersebut dalam hal pembelajaran seringkali diartikan sama dan kadang-kadang disilihgantikan. Berkaitan dengan itu, Raka Joni (1980), berpendapat bahwa strategi merupakan pola umum perbuatan guru dan siswa di dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar. Hal itu dapat diartikan bahwa interaksi belajar mengajar berlangsung dalam suatu pola yang digunakan bersama oleh guru dan siswa.

Hasil deskripsi di atas dapat dirumuskan sebagai suatu pola umum pembelajaran dimana subjeknya adalah siswa yang belajar berdasarkan prinsip-prinsip pendidikan, psikologi, didaktik, dan komunikasi dengan mengintegrasikan struktur/urutan/sintaks pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran atau alat peraga, pengelolaan kelas, evaluasi, dan waktu yang diperlukan agar siswa sebagai pembelajar dapat mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.

Adapun pengertian model pembelajaran adalah suatu pola atau struktur pembelajaran yang tersusun dan didesain, ditetapkan, dan dievaluasi secara sistemik untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan guru. Istilah model sendiri dapat diartikan sebagai suatu bentuk tiruan dari benda yang sebenarnya. Model juga dapat diartikan sebagai suatu contoh konseptual atau prosedural dari suatu plan, sistem, atau proses yang dapat dijadikan acuan atau pedoman kreatif dalam pemenuhan akan kebutuhan siswa di sekolah dasar, telah banyak mengembangkannya. hal itu tidak lain agar kualitas pendidikan di sekolah-sekolah seluruh negeri ini selalu dalam rangka memecahkan suatu masalah agar tujuan dapat tercapai.

3.   Model Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif mempunyai kelebihan yang sangat besar untuk mengembangkan hubungan antara peserta didik dari latar belakang etnik yang berbeda dan antara peserta didik-peserta didikpendidikan khusus terbelakang secara akademik dengan teman sekelas mereka (Slavin 2005:5). Slavin (dalam Isjoni 2009:15) berpendapat bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu model yang memungkinkan peserta didik belajar dan bekerja dalam kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya 4-vi orang dengan struktur kelompok heterogen.

Lie (2008:29) mengatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. Ada unsur-unsur dasar pembelajaran coopertive learning yang membedakanya dengan pembagian kelompok yang asal-asalan. Pelaksanaan prosedur model coopertive learning dengan benar-benar akan memungkinkan pendidik mengelola kelas dengan lebih efektif.

Model pembelajaran kooperatif adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Slavin dalam Isjoni (2009: 15) pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya v orang dengan struktur kelompok heterogen. Sedangkan menurut Sunal dan Hans dalam Isjoni (2009:xv) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan suatu cara pendekatan atau serangkaian strategi yang khusus dirancang untuk memberi dorongan kepada siswa agar bekerja sama selama proses pembelajaran.

Selanjutnya Stahl dalam Isjoni (2009: 15) menyatakan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan belajar siswa lebih baik dan meningkatkan sikap saling tolong-menolong dalam perilaku sosial. Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar (Sugiyanto, 2010: 37). Anita Lie (2007: 29) mengungkapkan bahwa model pembelajaran cooperative learning tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok.

Ada lima unsur dasar pembelajaran cooperative learning yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Pelaksanaan model pembelajaran kooperatif dengan benar akan menunjukkan pendidik mengelola kelas lebih efektif. Johnson (dalam Anita Lie,2007: 30) mengemukakan dalam model pembelajaran kooperatif ada lima unsur yaitu: saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antar anggota, dan evaluasi proses kelompok.

Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) adalah model pembelajaran yang menekankan pada saling ketergantungan positif antar individu siswa, adanya tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi intensif antar siswa, dan evaluasi proses kelompok (Arif Rohman, 2009: 186). Cooperative learning menurut Slavin (2005: 4-viii) merujuk pada berbagai macam model pembelajaran di mana para siswa bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari berbagai tingkat prestasi, jenis kelamin, dan latar belakang etnik yang berbeda untuk saling membantu satu sama lain dalam mempelajari materi pelajaran.

Dalam kelas kooperatif, para siswa diharapkan dapat saling membantu, saling mendiskusikan, dan berargumentasi untuk mengasah pengetahuan yang mereka kuasai saat itu dan menutup kesenjangan dalam pemahaman masing-masing. Cooperative learning lebih dari sekedar belajar kelompok karena dalam model pembelajaran ini harus ada struktur dorongan dan tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadi interaksi secara terbuka dan hubungan-hubungan yang bersifat interdependensi efektif antara anggota kelompok.

Agus Suprijono (2009: 54) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, di mana guru menetapkan tugas dan pertanyaanpertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu siswa menyelesaikan masalah yang dimaksudkan. Guru biasanya menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas.

Anita Prevarication (dalam Suprijono, 2009: 56) menguraikan model pembelajaran kooperatif ini didasarkan pada falsafah human homini socius. Berlawanan dengan teori Darwin, filsafat ini menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Dialog interaktif (interaksi sosial) adalah kunci seseorang dapat menempatkan dirinya di lingkungan sekitar.

Dari beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang anggotanya bersifat heterogen, terdiri dari siswa dengan prestasi tinggi, sedang, dan rendah, perempuan dan laki-laki dengan latar belakang etnik yang berbeda untuk saling membantu dan bekerja sama mempelajari materi pelajaran agar belajar semua anggota maksimal.

iv.   Model PembelajaranCIRC

Cooperative Integrated Reading and Compositian adalah salah satu model pembelajaran cooperative learning yang pada mulanya merupakan pengajaran kooperatif terpadu membaca dan menulis yaitu sebuah program komprehensif atau luas dan lengkap untuk pengajaran membaca dan menulis untuk kelas-kelas tinggi sekolah dasar. Fokus utama kegiatan Cooperative Integrated Reading and Limerick adalah membuat penggunaan waktu menjadi lebih efektif. Peserta didik dikondisikan dalam tim-tim kooperatif yang kemudian dikoordinasikan dengan pengajaran kelompok membaca, supaya memenuhi tujuan lain seperti pemahaman membaca, kosa kata, pembacaan pesan, dan ejaan. Dengan begitu peserta didik termotivasi untuk saling bekerja sama dalam sebuah tim (Slavin, 2010:200).

Menurut Suprijono (2012: 54), pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, di mana guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah yang dimaksud.

Guru biasanya menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas. Pembelajaran kooperatif dapat diaplikasikan untuk semua jenis kelas: kelas khusus untuk anak-anak berbakat, kelas guruan khusus, kelas dengan tingkat kecerdasan rata-rata, dan sangat diperlukan dalam kelas heterogen dengan berbagai tingkat kemampuan. Pembajaran kooperatif sangat kondusif untuk mengembangkan hubungan antara peserta didik dari latar belakang etnik dan agama yang berbeda, dan antarpeserta didik yang terbelakang secara akademik dengan teman sekelasnya.

Tujuan utama pembelajaran kooperatif adalah untuk memberikan para peserta didik pengetahuan, konsep, kemampuan, dan pemahaman yang mereka butuhkan. Dalam pembelajaran kooperatif terdapat berbagai macam model pembelajaran yang dapat diaplikasikan dalam proses pembelajaran di dalam kelas sesuai dengan materi dan cara pembelajaran yang dikehendaki oleh guru. Salah satu model kooperatif yang akan peneliti gunakan untuk meningkatkan keterampilan menyusun teks cerita pendek adalah model kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading and Composition.

Cooperative Integrated Reading and Composition merupakan salah satu model pembelajaran cooperative learning yang pada mulanya merupakan pengajaran kooperatif terpadu membaca dan menulis (Slavin, 2010) yaitu sebuah program komprehensif atau luas dan lengkap untuk pengajaran membaca dan menulis untuk kelas-kelas tinggi sekolah dasar. Model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis) merupakan model pembelajaran khusus mata pelajaran Bahasa Republic of indonesia dalam rangka membaca dan menemukan ide pokok, pokok pikiran atau, tema sebuah wacana atau kliping.

Pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition dikembangkan oleh Stevans, Madden, Slavin dan Farnish. Pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading and Composition dari segi bahasa dapat diartikan sebagai suatu model pembelajaran kooperatif yang mengintegrasikan suatu bacaan secara menyeluruh kemudian mengkomposisikannya menjadi bagian-bagian yang penting. Selain itu, pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition atau pembelajaran terpadu setiap peserta didik bertanggung jawab terhadap tugas kelompok. Setiap anggota kelompok saling mengeluarkan ide-ide untuk memahami suatu konsep dan menyelesaikan tugas (task), sehingga terbentuk pemahaman dan pengalaman belajar yang sama.

Model pembelajaran ini terus mengalami perkembangan mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga sekolah menengah. Proses pembelajaran ini mendidik peserta didik berinteraksi sosial dengan lingkungan. Tujuan utama dari model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition adalah utuk merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi pendekatan proses menulis pada pelajaran membaca, menulis, dan seni berbahasa yang akan banyak memanfaatkan kehadiran teman satu kelas karena model pembelajaran ini berciri kooperatif.

Menurut Slavin (2010:200-212) model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition adalah salah satu model pembelajaran cooperative learning yang pada mulanya merupakan pengajaran kooperatif terpadu membaca dan menulis yaitu sebuah program komprehensif atau luas dan lengkap dalam mengajarkan membaca dan menulis untuk kelas-kelas tinggi sekolah dasar dengan adanya penerapan model tersebut, pembelajaran akan lebih menyenangkan dan menarik minat peserta didik. Namun model Cooperative Integrated Reading and Limerick dapat diterapkan pada peserta didik kelas SMP untuk pembelajaran membaca, menulis, dan seni berbahasa terpadu. Hal tersebut dibuktikan dengan penelitian yang sebelumnya bahwa model Cooperative Integrated Reading and Composition dapat meningkatkan keterampilan membaca dan menulis pada peserta didik.

Pembelajaran cooperative menekankan tujuan kelompok dan tanggung jawab dari tiap individu. Model Cooperative Integrated Reading and Composition adalah salah satu metode kooperatif yang komprehensif digunakan dalam pelajaran membaca, menulis, dan seni berbahasa. Model Cooperative Integrated Reading and Composition memiliki tiga elemen prinsip, yakni: 1) kegiatan berhubungan dengan cerita, ii) instruksi langsung dalam membaca pemahaman, dan 3) menulis dan seni bahasa terpadu.

Tujuan utama dari model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition adalah untuk merancang, mengimplementasikan, dan mengevalusasi pendekatan preses menulis pada pelajaran membaca, menulis, dan seni berbahasa yang akan banyak memanfaatkan kehadiran teman satu kelas karena model pembelajaran ini berciri kooperatif.

Dalam pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition, setiap peserta didik bertanggung jawab terhadap tugas kelompok. Setiap anggota kelompok saling mengeluarkan ide-ide untuk memahami suatu konsep dan menyelesaikan tugas (task), sehingga terbentuk pemahaman yang dan pengalaman belajar yang lama. Model pembelajaran ini terus mengalami perkembangan mulai dari tingkat Sekolah Dasar hingga sekolah menengah. Proses pembelajaran ini mendidik peserta didik berinteraksi sosial dengan lingkungan.

5. Cara Menentukan Anggota Kelompok

Dalam model pembelajaran Cooperative Intergrated Reading And Limerick, peserta didik ditempatkan pada kelompok-kelompok kecil yang heterogen yang terdiri atas 4 sampai 5 peserta didik. Dalam kelompok ini tidak dibedakan atas jenis kelamin, suku/bangsa, atau tingkat kecerdasan peserta didik. Sehingga dalam satu kelompok terdiri atas bermacam-macam karakter, ada yang pandai, sedang dan kurang. Dalam pembelajaran kooperatif peserta didik dapat meningkatkan cara berfikir kritis, kreatif dan menumbuhkan rasa sosial yang tinggi. Cara untuk menentukan anggota kelompoknya adalah sebagai berikut.

a. Menentukan peringkat peserta didik. Dengan cara mencari informasi tentang skor rata-rata nilai peserta didik pada tes sebelumnya atau nilai raport. Kemudian diurutkan dengan cara menyusun peringkat dari yang berkemampuan akademik tinggi sampai terendah.

b. Menentukan jumlah kelompok. Jumlah kelompok ini ditentukan dengan memperhatikan banyak anggota setiap kelompok dan jumlah peserta didik yang ada di kelas tersebut.

c. Penyusunan anggota kelompok. Pengelompokkan ditentukan atas dasar susunan peringkat peserta didik yang telah dibuat. Setiap kelompok diusahakan beranggotakan peserta didik-peserta didik yang mempunyai kemampuan beragam, sehingga mempunyai kemampuan rata-rata yang seimbang (Hake, 1998:1-2).

Pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Compositian dikembangkan oleh Stevans, Madden, Slavin dan Farnish. Pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading and Compositian dari segi bahasa dapat diartikan sebagai suatu model pembelajaran kooperatif yang mengintegrasikan suatu bacaan secara menyeluruh kemudian mengkomposisikannya menjadi bagian-bagian yang penting.

vi.   Komponen Model CIRC

Model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition menurut Slavin memiliki delapan komponen. Kedelapan komponen tersebut antara lain:

a.Teams, yaitu pembentukan kelompok heterogen yang terdiri atas 4 atau v peserta didik;

b.Placement exam, misalnya diperoleh dari rata-rata nilai ulangan harian sebelumnya atau berdasarkan nilai rapor agar guru mengetahui kelebihan dan kelemahan peserta didik pada bidang tertentu;

c.Pupil creative, melaksanakan tugas dalam suatu kelompok dengan menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya;

d.Team study, yaitu tahapan tindakan belajar yang harus dilaksanakan oleh kelompok dan guru memberikan bantuan kepada kelompok yang membutuhkannya;

e.Team scorer and team recognition, yaitu pemberian skor terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan kriteria penghargaan terhadap kelompok yang berhasil secara cemerlang dan kelompok yang dipandang kurang berhasil dalam menyelesaikan tugas;

f.Pedagogy group, yakni memberikan materi secara singkat dari guru menjelang pemberian tugas kelompok;

f.Facts test, yakni pelaksanaan test atau ulangan berdasarkan fakta yang diperoleh peserta didik;

h.Whole-class units, yaitu pemberian rangkuman materi oleh guru di akhir waktu pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah (dalam Abidin, 2012: 205-212).

Untuk menjalankan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition ini agar dapat berjalan dengan baik maka kedelapan komponen yang telah disebutkan di atas harus dapat dilaksanakan. Selanjutnya adalah memberikan penghargaan kepada kelompok belajar yang memiliki hasil kerja kelompok yang baik. Dengan demikian akan memancing reaksi dari kelompok yang lain untuk berusaha mendapatkan penghargaan yang serupa sehingga akan timbul sebuah motivasi baru dalam kegiatan pembelajaran.

vii.   Sintakmatik Model CIRC

Pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition menuntut peserta didik bertanggung jawab terhadap tugas kelompok. Setiap anggota kelompok saling mengeluarkan ide-ide untuk memahami suatu konsep dan menyelesaikan tugas, sehingga terbentuk pemahaman dan pengalaman belajar yang lama. Model Cooperative Integrated Reading and Limerick menurut Stevens (dalam Huda 2013:222) memiliki langkah-langkah penerapan sebagai berikut.

a. Guru membentuk kelompok-kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari iv peserta didik.

b. Guru memberikan wacana sesuai dengan topik pembelajaran.

c. Peserta didik bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok yang terdapat dalam wacana kemudian memberikan tanggapan terhadap wacana yang ditulis pada lembar kertas.

d.  Peserta didik mempresentasikan/membacakan hasil diskusi kelompok

due east.  Guru memberikan penguatan (reinforcement)

f.   Guru dan peserta didik bersama-sama membuat simpulan.

Dari setiap fase tersebut, sintagmatik model Cooperative Integrated Reading and Composition adalah sebagai berikut.

Fase Kegiatan
 Fase 1 (pengenalan konsep)  Guru mulai mengenalkan suatu konsep atau istilah baru yang mengacu pada hasil penemuan selama eksplorasi. Pengenalan bisa didapat dari keterangan guru, buku paket, atau media lainnya.
 Fase 2 (Eksplorasi dan Aplikasi)  Peserta didik diberikan kesempatan untuk mengungkapkan pengetahuan awal, mengembangkan pengetahuan baru, dan menjelaskan fenomena yang mereka alami dengan bimbingan guru. Selain itu, pada fase ini diharapkan mampu membangkitkan minat dan rasa ingin tahu peserta didik terhadap kegiatan pembelajaran.
 Fase 3 (Publikasi) Peserta didik  Peserta didik mampu mengomunikasikan hasil temuan-temuan serta membuktikan dan memperagakan materi yang dibahas. Penemuan dapat bersifat sesuatu yang baru atau sekadar membuktikan hasil pengamatan. Peserta didik dapat memberikan pembuktian terkaan gagasan-gagasan barunya untuk diketahui oleh teman-teman sekelas.

Ahli lain mengemukakan sintagmatik model Cooperative Integrated Reading and Compositionadalah sebagai berikut.

a. Fase pertama, yaitu orientasi. Pada fase ini, guru melakukan apersepsi dan pengetahuan awal peserta didik tentang materi yang akan diberikan. Selain itu juga memaparkan tujuan pembelajaran yang akan dilakukan kepada peserta didik.

b. Fase kedua, yaitu organisasi. Guru membagi peserta didik ke dalam beberapa kelompok, dengan memperhatikan keheterogenan akademik. Membagikan bahan bacaan tentang materi yang akan dibahas kepada peserta didik. Selain itu menjelaskan mekanisme diskusi kelompok dan tugas yang harus diselesaikan selama proses pembelajaran berlangsung.

c. Fase ketiga yaitu pengenalan konsep. Dengan cara mengenalkan tentang suatu konsep baru yang mengacu pada hasil penemuan selama eksplorasi. Pengenalan ini bisa didapat dari keterangan guru, buku paket, movie, kliping, affiche atau media lainnya.

d. Fase keempat, yaitu fase publikasi. Peserta didik mengkomunikasikan hasil temuan-temuannya, membuktikan, memperagakan tentang materi yang dibahas baik dalam kelompok maupun di depan kelas.

e. Fase kelima, yaitu fase penguatan dan refleksi. Dalam fase ini guru memberikan penguatan berhubungan dengan materi yang dipelajari melalui penjelasan-penjelasan ataupun memberikan contoh nyata dalam kehidupan seharihari. Selanjutnya peserta didik pun diberi kesempatan untuk merefleksikan dan mengevaluasi hasil pembelajarannya (Adi, 2009).

Berdasarkan penjelasan di atas, Cooperative Intergrated Reading And Composition  termasuk salah satu model pembelajaran Cooperative Learning yang pada mulanya merupakan pengajaran kooperatif terpadu membaca dan menulis. Di mana Cooperative Intergrated Reading And Composition merupakan sebuah plan komprehensif dan lengkap untuk pengajaran membaca dan menulis untuk sekolah menengah untuk mata pelajaran bahasa. Akan tetapi pembelajaran Cooperative Intergrated Reading And Composition mulai berkembang bukan hanya untuk pelajaran bahasa saja melainkan dapat juga dikenakan pada mata pelajaran biologi, matematika, fisika dll.

8.   Tujuan Model Pembelajaran CIRC

Kemampuan berpikir kritis mempunyai peranan yang sangat strategis dalam bidang pendidikan. Berpikir kritis merupakan sebuah proses yang bertujuan untuk membuat keputusan yang masuk akal mengenai apa yang kita percayai dan apa yang kita kerjakan (Ennis dalam Amri dan Ahmadi, 2012:62). Definisi berpikir kritis juga diungkapkan Richard Paul dalam Fisher (2008) adalah model berpikir mengenai hal, substansi atau masalah apa saja, dimana si pemikir meningkatkan kualitas pemikirannya dengan menangani secara terampil struktur-struktur yang melekat dalam pemikiran dan menerapkan standar-standar intelektual padanya.

Adapun tujuan dari pengembangan program Cooperative Integrated Reading and Composition adalah sebagai berikut.

a. Membaca lisan. Meningkatankan kesempatan peserta didik untuk membaca dengan keras dan menerima umpan balik dari kegiatan membaca, dengan membuat para peserta didik membaca untuk teman satu timnya dan dengan melatih mereka mengenai bagaimana saling merespons kegiatan membaca peserta didik.

b. Kemampuan memahami bacaan. Penggunaan tim-tim kooperatif utuk membantu peserta didik mempelajari kemampuan memahami bacaan yang dapat diaplikasikan secara luas.

c. Menulis dan seni berbahasa. Pengembangan CIRC terhadap pelajaran menulis dan seni berbahasa adalah untuk merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi pendekatan proses menulis pada pelajaran menulis dan seni berbahasa yang akan banyak memanfaatkan kehadiran teman satu kelas (Slavin, 2010:202-204).

Berdasarkan tujuan di atas, model pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading and Composition merupakan salah satu alternatif yang dapat diterapkan kepada peserta didik. Dalam model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Limerick peserta didik ditempatkan pada kelompokkelompok kecil yang heterogen, peserta didik bekerjasama saling membacakan dan menemukan ide pokok serta memberi tanggapan terhadap narasi yang diberikan guru, sehingga peserta didik dapat meningkatkan cara berfikir kritis, kreatif dan menumbuhkan rasa sosial yang tinggi. Dengan menggunakan model pembelajaran tipe Cooperative Integrated Reading and Limerick diharapkan dapat meningkatkan minat membaca peserta didik.

9.   Sistem Sosial Model CIRC

Guru dan peserta didik terlibat langsung dalam semua tahap kegiatan pembelajaran. Guru tetap berinisiatif menetapkan teks cerpen yang akan dijadikan contoh. Peran guru dalam hal ini cukup vital karena penentuan teks cerpen membutuhkan kecermatan agar karangan naratif contoh harus memenuhi kriteria kesesuaian dengan tingkat perkembangan psikologis peserta didik, kultur sosial, dan keterjangkauan.

Dalam tahap eksplorasi berupa kegiatan membaca berkelompok, pembahasan dan diskusi kelompok terhadap teks cerpen, pelatihan menelaah dan merevisi teks cerpen, dan apresiasi terhadap karya peserta didik, peran peserta didiklah yang dominan dan penting. Peran guru hanyalah sebagai fasilitator. Peserta didik dan guru terlibat dalam penyimpulan dan penilaian pembelajaran. Sistem sosial yang berlaku mencakup kelompok kecil peserta didik yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan suatu masalah, tugas atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama.

Dalam menyelesaikan tugas kelompok setiap anggota saling bekerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pelajaran (Siswanto 2012). Pada model pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading and Composition ini tugas guru bukan mencurahkan dan manyuapi peserta didik dengan ilmu pengetahuan, tetapi mereka sebagai motivator, mediator dan fasilitator pendidikan.

Guru sebagai motivator dalam proses pembelajaran adalah memberikan motivasi kepada peserta didik untuk bersemangat dalam mengikuti pembelajaran menulis teks berita, guru memberikan motivasi kepada peserta didik saat kegiatan pembuka. Guru sebagai mediator bertindak sebagai media jika peserta didik mengalami kesulitan jika ada peserta didik yang masih belum memahami materi dan masih mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas. Guru sebagai fasilitator menyiapkan apa saja yang dibutuhkan pada saat pembelajaran, dengan menyediakan media pembelajaran berupa foto peristiwa aktual, menyediakan teks berita. Peserta didik diberi kebebasan untuk berkreativitas mengungkapkan ide.

10. Prinsip Reaksi Model CIRC

Cooperative Integrated Reading and Composition dapat meningkatkan kinerja peserta didik dalam tugas-tugas akademik, unggul dalam membantu peserta didik memahami konsep-konsep sulit dan membantu peserta didik menumbuhkan kemampuan berpikir kritis. Hal tersebut sesuai dengan ungkapan Jasmine dalam Mudawati (2008:24) yang menyimpulkan bahwa:

 Pembelajaran kooperatif model Cooperative Integrated Reading and Limerick secara aktif melibatkan kecerdasan interpersonal, mengajar peserta didik untuk dapat bekerjasama yang baik dengan orang lain, mendorong kolaborasi (kerjasama), berkompromi dan bermusyawarah mencapai kesepakatan dan secara umum menyiapkan mereka untuk masuk dalam dunia hubungan personal.

Pada pembelajaran model kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading and Limerick ini tugas guru bukan mencurahkan dan menyuapi peserta didik dengan ilmu pengetahuan, tetapi sebagai motivator, mediator, fasilitator guruan. Guru sebagai motivator dalam proses pembelajaran adalah memberikan motivasi kepada peserta didik untuk bersemangat dalam mengikuti pembelajaran menyusun teks cerita pendek, guru memberikan motivasi kepada peserta didik saat kegiatan pembukaan. Guru sebagai mediator bertindak sebagai media jika peserta didik mengalami kesulitan dan ada peserta didik yang masih belum bisa memahami materi serta masih merasa kesulitan dalam mengerjakan tugas (Siswanto 2012).

11. Sistem Pendukung Model CIRC

Sarana pendukung yang diperlukan untuk melaksanakan model pembelajaran ini adalah segala sesuatu yang menyangkut kebutuhan peserta didik untuk mendapatkan informasi tentang teks cerpen. Buku-buku yang memuat karangan teks cerpen, seperti buku peserta didik dan buku guru menjadi sangat penting. Demikian pula majalah-majalah dan jurnal-jurnal sastra sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, di samping siap dengan sistem pengelolaan dan pelayanan yang prima, perpustakaan sekolah hendaknya menyediakan buku-buku bacaan yang memenuhi syarat.

Di samping itu, tiap kelas juga hendaknya memiliki papan panjang berbentuk majalah dinding sebagai sarana apresiasi karya peserta didik. Sarana pendukung yang diperlukan yaitu buku referensi yang sesuai dengan materi yang akan dibahas. Referensi yang mendukung pembelajaran menyusun teks cerita pendek adalah buku peserta didik dan buku guru yang diterbitkan oleh Kemendikbud (Siswanto 2012).

12. Dampak Instruksional dan Dampak Pengiring Model CIRC

Pada model pembelajaran ini dampak instruksionalnya adalah peserta didik dapat bekerjasama dan menghargai pendapat orang lain, berkembangnya ilmu pengetahuan dalam bidang akademik. Pada model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition ini dampak instruksionalnya adalah peserta didik dapat bekerjasama menghargai pendapat orang lain, berkembangnya ilmu pengetahuandalam bidang akademik. Sedangkan dampak pengiringnya adalah terjalinnya suatu kekompakkan individu dalam suatu kelompok (Siswanto 2012).

13. Kelebihan dan Kekurangan ModelCIRC

Kelebihan dari model Cooperative Integrated Reading and Limerick menurut Saifulloh (dalam Huda 2013: 221) antara lain yaitu:

i) pengalaman dan kegiatan belajar peserta didik akan selalu relevan dengan tingkat perkembangan peserta didik,

2) kegiatan yang dipilih sesuai dengan dan bertolak dari minat dan kebutuhan peserta didik,

3) seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi peserta didik sehingga hasil belajar peserta didik dapat bertahan lebih lama,

4) pembelajaran terpadu dapat menumbuh kembangkan keterampilan peserta didik,

5) pembelajaran terpadu menyajikan kegiatan bersifat pragmatis (bermanfaat) sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui oleh peserta didik,

vi) pembelajaran terpadu dapat menumbuhkan motivasi belajar peserta didik kearah belajar yang dinamis, optimal, dan tepat guna

7) pembelajaran terpadu dapat menumbuh kembangkan interaksi sosial peserta didik, seperti kerja sama, toleransi komunikasi, dan respek terhadap gagasan orang lain,

8) membangkitkan motivasi belajar peserta didik serta memperluas wawasan dan aspirasi guru dalam mengajar.

Selain itu, kelebihan model Cooperative Integrated Reading and Composition juga dikemukakan oleh Slavin (2010:202-204) antara lain:

ane) Model pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading and Composition amat tepat untuk meningkatkan pemahaman peserta didik pada materi pembelajaran,

2)  dominasi guru dalam pembelajaran berkurang,

3) peserta didik termotivasi pada hasil secara teliti, karena bekerja dalam kelompok,

iv) para peserta didik dapat memahami makna soal dan saling mengecek pekerjaan,

5) membantu peserta didik yang lemah dalam memahami tugas yang diberikan, dan

6) meningkatkan hasil belajar khususnya dalam menyelesaikan soal yang diberikan guru.

Di samping memiliki kelebihan, model Cooperative Integrated Reading and Composition juga memiliki kekurangan, antara lain: 1) pada saat dilakukan presentasi, terjadi kecenderungan hanya peserta didik pintar yang secara aktif menyampaikan pendapat dan gagasan, two) tidak semua peserta didik mampu mengerjakan soal dengan teliti.

Selain itu, kekurangan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Limerick ini di antaranya membutuhkan waktu yang tidak sedikit dalam pelaksanaannya. Waktu tersebut digunakan pada saat diskusi. Selain itu, sulitnya mengatur kelas untuk kondusif sehingga suasana kelas cenderung ramai. Oleh karena itu, guru harus pandai dalam mengatur waktu yang ada dan menguasai kondisi kelas agar pelaksanaan pembelajaran menggunakan model ini dapat berjalan dengan baik.

14. Model Pembelajaran CIRC dalam Pendekatan Saintifik

Model pembelajaran menurut adalah suatu pola atau rencana yang sudah direncanakan sedemikian rupa dan digunakan untuk menyusun kurikulum, mengatur materi pelajaran, dan member petunjuk kepada pengajar di kelasnya. Dalam penerapannya model pembelajaran ini harus sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Keduanya mengemukakan empat kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (two) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku (Joyce dan Weil dalam Isjoni 2009:73)

Mengutip pendapat Bruce Joyce dan Marsha Weil model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.

Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Sedangkan menurut Killen dan Roy (dalam Rusman, 2012:381) dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada peserta didik (student centered approach) dan (two) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (instructor centered arroyo) (Sanjaya, 2008:127)

Pendekatan ilmiah (scientific) merupakan pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada peserta didik (student centered approach). Di dalam pembelajaran dengan pendekatan ilmiah (scientific), peserta didik mengkonstruksi pengetahuan bagi dirinya. Bagi peserta didik, pengetahuan yang dimilikinya bersifat dinamis, berkembang dari sederhana menuju kompleks, dari ruang lingkup dirinya dan di sekitarnya menuju ruang lingkup yang lebih luas, dan dari yang bersifat konkrit menuju abstrak. Sebagai manusia yang sedang berkembang, peserta didik telah, sedang, dan/atau akan mengalami empat tahap perkembangan intelektual, yakni sensori motor, pra-operasional, operasional konkrit, dan operasional formal (Permendikbud nomor 81 A Tahun 2013).

Proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan menggunakan pendekatan ilmiah (scientific). Proses pembelajaran saintifik menyentuh tiga ranah pembelajaran, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah (scientific) dilakukan dengan lima langkah pembelajaran yaitu tahap mengamati, bertanya, mencoba, melakukan asosiasi, dan mengkomunikasikan. Kelima tahapan ini dipandang mampu menyampaikan peserta didik mencapai keterampilan berpikir, merasa, dan melakukan.

Menurut Arends (dalam Suprijono: 2009), model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas. Begitu pula dengan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Compotition yang mengacu pada pendekatan ilmiah (scientific) dan digunakan dalam penelitian ini.

Model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition merupakan salah satu pembelajaran membaca kooperatif terpadu yang mengacu pada pemahaman bacaan peserta didik. Relevansi model Cooperative Integrated Reading and Composition dengan pendekatan ilmiah (scientific) yakni, model pembelajaran ini berpusat pada peserta didik. Tahap-tahap yang dilakukan dalam model Cooperative Integrated Reading and Limerick yang mengacu pada pendekatan ilmiah (scientific) dikolaborasikan untuk memaksimalkan tujuan pembelajaran. Hal ini dilakukan karena ada beberapa tahapan yang ada pada model Cooperative Integrated Reading and Composition tidak terdapat dalam pendekatan ilmiah (scientific), sehingga diharapkan kolaborasi antara model Cooperative Integrated Reading and Composition dengan pendekatan ilmiah (scientific) dapat mencapai tujuan pembelajaran secara baik dan maksimal.

Selain tahapan, kolaborasi dilakukan dari segi lingkungan pembelajaran. Lingkungan pembelajaran dirancang berdasarkan tujuan pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition yang mengacu pada pendekatan ilmiah (scientific), yaitu menghasilkan lingkungan pembelajaran yang aktif dimana peserta didik benar-benar dapat mengkonstruksikan pengetahuan bagi dirinya yang bersifat dinamis, berkembang dari sederhana menuju kompleks, dari ruang lingkup dirinya dan di sekitarnya menuju ruang lingkup yang lebih luas, dan dari yang bersifat konkrit menuju abstrak. Selanjutnya adalah kolaborasi dari segi pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas diatur berdasarkan urutan atau tahapan kegiatan pada pengaturan suatu kelompok dan pengaturan kegiatan peserta didik sebagai anggota suatu kelompok.

15.  Implementasi ModelCIRC

Pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading and Composition dari segi bahasa dapat diartikan sebagai suatu model pembelajaran kooperatif yang mengintegrasikan suatu bacaan secara menyeluruh kemudian mengkomposisikannya menjadi bagian-bagian yang penting. Kegiatan pokok dalam Cooperative Integrated Reading and Limerick untuk menelaah dan merevisi teks cerpen meliputi rangkaian kegiatan bersama yang spesifik untuk mencapai tujuan yang diharapkan dalam pembelajaran. Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menelaah dan merevisi teks cerpen dengan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition adalah sebagai berikut.

a. Salah satu anggota kelompok membaca atau beberapa anggota saling membacakan teks cerpen yang didapatkan, dan bisa diulangi kembali apabila ada beberapa anggota yang belum paham.

b. Membuat prediksi atau menafsirkan isi, struktur, dan kaidah kebahasaan berdasarkan teks cerpen yang dimiliki.

c. Saling membuat rencana penyelesaian soal dalam kegiatan menelaah dan merevisi teks cerpen yang terdiri atas menemukan kesalahan dan memperbaikinya berdasarkan isi, struktur, dan kaidah kebahasaan teks cerpen.

d. Menuliskan penyelesaian soal secara urut sesuai dengan lembar kerja (menuliskan komposisi penyelesaiannya).

eastward.  Saling menyunting pekerjaan/ penyelesaian.

Model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition ini sangat memudahkan peserta didik dalam pengorganisaasian membaca teks cerpen, karena menjadi landasan peserta didik untuk menelaah dan merevisi teks cerpen berdasarkan isi, struktur, dan kaidah kebahasaan. Stevens, dkk (dalam Huda 2014: 222) model Cooperative Integrated Reading and Composition memiliki langkah-langkah penerapan sebagai berikut.

a. Guru membentuk kelompok-kelompok yang masing-masing terdiri atas empat peserta didik.

b. Guru memberikan wacana sesuai dengan topik pembelajaran.

c. Peserta didik bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok kemudian memberikan tanggapan terhadap wacana yang ditulis pada lembar kertas.

d.  Peserta didik mempresentasikan atau membacakan hasil diskusi kelompok.

e.  Guru memberikan penguatan (reinforcement).

f.   Guru dan peserta didik bersama-sama membuat kesimpulan.

Berdasarkan penjelasan diatas, model Cooperative Integrated Reading and Limerick adalah suatu model belajar yang menggunakan yang melibatkan pemahaman konsep peserta didik mengenai materi dan tugas yang diajarkan dan guru menanamkan konsep sesuai materi bahan ajar, simpulan, evaluasi, dan refleksi. Penggunaan model ini diharapkan dapat merangsang daya pikir dan pikat peserta didik untuk lebih mengekspresikan apa yang ada dipikirannya dan menuangkannya dalam bahasa cerita dengan urutan yang benar.

Daftar Pustaka

Abidin, Yunus. 2012. Pembelajaran Bahasa Berbasis Pendidikan Karakter. Bandung: Refika Aditama.

Abidin, Yunus. 2014. Desain Sistem Pembelajaran dalam Konteks Kurikulum 2013. Bandung: Refika Aditama.

Adi, Agus. 2009. Model Pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC).  http://ady-ajuz.blogspot.com/2009/03/modelpembelajaran-cooperative.html. [i Januari 2010]

Amri, Sofan dan Ahmadi. 2012. Proses Pembelajaran Kreatif dan Inovatif dalam Kelas (Metode, Landasan Teoritis-Praktis dan Penerapannya). Jakarta: PT. Prestasi Pustakaraya.

Huda, Miftahul. 2013. Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Fisher, Alec. 2008. Berpikir Kritis Sebuah Pengantar. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Hake-Richard, R. 1998. Interactive Engagement Methods In Introductory Mechanics Courses. Journal o Physics Education Research.

Isjoni. 2009. Pembelajaran Kooperatif Meningkatkan Kecerdasan Komunikasi Antarpeserta didik. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Lie, Anita.2002. Cooperative Learning Mempraktikan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: Gramedia.

Rusman. 2012. Model-model Pembelajaran ; Mengembangkan profesionalisme guru. Dki jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Grasindo.

Siswanto, Fajar. 2012. Model Pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition). Http://eduadvanture.blogspot.com. Diunduh pada tanggal 14 April 2022 pukul nineteen.xxx.

Slavin, Robert East. 2010. Cooperative Learning (Teori, Riset, dan Praktik). Bandung: Nusa Media.

Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning (Teori dan Aplikasi Paikem). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suprijono, Agus. 2012. Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi Paikem. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Kontrustivistik. Dki jakarta: Prestasi Pustaka.

Trianto.2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Jakarta:Kencana Prenada Media Group.

kerstenbearted.blogspot.com

Source: https://bagawanabiyasa.wordpress.com/2016/01/07/model-pembelajaran-cooperative-integrated-reading-and-composition/

0 Response to "Research Behind Cooperative Integrated Reading and Composition"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel